Prevalensi Maloklusi Berdasarkan Klasifikasi Angle pada Anak Usia 12 Tahun di UPT Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang

Penulis

  • Dwi Wahyu Arsita Deni UPT Puskesmas Bantur
  • Distya Ardiansyah UPT Puskesmas Bantur

Kata Kunci:

Anak, Maloklusi, Angle, Prevalensi, 12 Tahun

Abstrak

Maloklusi merupakan kondisi susunan gigi yang menyimpang dari oklusi normal dan menempati urutan ketiga masalah kesehatan gigi dan mulut setelah karies dan penyakit periodontal menurut World Health Organization (WHO). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Prevalensi maloklusi dilaporkan cukup tinggi, meskipun data Riskesdas tidak secara spesifik mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan klasifikasi Angle. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi maloklusi gigi pada anak usia 12 tahun di UPT Puskesmas Bantur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien. Populasi penelitian adalah seluruh anak usia 12 tahun yang berkunjung ke UPT Puskesmas Bantur selama periode Januari–Desember 2025. Berdasarkan kriteria inklusi diperoleh 33 anak sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi maloklusi Angle kelas I sebesar 42,4%, kelas II sebesar 39,4%, dan kelas III sebesar 18,2%. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi maloklusi pada laki-laki sebesar 36,4% dan perempuan sebesar 63,6%. Maloklusi kelas I merupakan jenis yang paling banyak ditemukan.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Anindita PS, Zuliari K, Nanlessy SM. Prevalensi maloklusi pada anak usia 9–12 tahun di daerah pesisir Kota Manado. E-Gigi. 2024;12(2):168-174.

Anindita PS, Gosal S, Ginting PEB. Prevalensi maloklusi pada anak usia 9–12 tahun di daerah pesisir Kecamatan Malalayang Kota Manado. E-Gigi. 2024;12(1):137-141.

Bansal M, Gupta N, Gupta P, Arora V, Thakar S. Reasons for extraction in primary teeth among 5–12-year-old school children in Haryana, India: A cross-sectional study. J Clin Exp Dent. 2017;9(4):e545.

Demmajannang T, Erwansyah E. Overview of Bolton index on patients treated with removable orthodontic appliance in Dental Hospital of Hasanuddin University. J Dentomaxillofac Sci. 2013;12(3):175.

Herawati H, Novita S, Utami RN. Relationship between premature loss of deciduous teeth and malocclusion incidence in elementary school children in Cimahi. J Med Health. 2015;1(2):165.

Joelijanto R. Oral habits that cause malocclusion problems. Insisiva Dent J. 2012;1(2).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018.

Kusnoto J, Nasution FH, Gunadi HA. Buku ajar ortodonti. Jakarta: EGC; tahun tidak disebutkan.

Laguhi VA, Anindita PS, Gunawan PN. Gambaran maloklusi menggunakan HMAR pada pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado. E-Gigi. 2014;2(2).

Lucas-Rincón SE, Robles-Bermeo NL, Lara-Carrillo E, et al. Interproximal caries and premature tooth loss in primary dentition as risk factors for loss of space in the posterior sector: A cross-sectional study. Medicine (Baltimore). 2019;98(11):e14875.

Murshid SA, Al-Labani MA, Aldhorae KA, Rodis OM. Prevalence of prematurely lost primary teeth in 5–10-year-old children in Thamar City, Yemen: A cross-sectional study. J Int Soc Prev Community Dent. 2016;6(Suppl 2):S126.

Premkumar S. Textbook of orthodontics. Elsevier Health Sciences; 2015.

Premkumar S. Manual of pediatric dentistry. Jaypee Brothers Medical Publishers; 2014.

Rythén M, Thilander B, Robertson A. Dento-alveolar characteristics in adolescents born extremely preterm. Eur J Orthod. 2013;35(4):475-482.

Shrestha A, Marla V, Shrestha S, Maharjan IK. Developmental anomalies affecting the morphology of teeth: A review. RSBO. 2015;12(1):68-78.

Susilowati. Prevalensi maloklusi gigi anterior pada siswa sekolah dasar (penelitian pendahuluan di SD 6 Maccora Walihe, Sidrap). Makassar Dent J. 2016;5(3):97-101.

Wahyuningsih S, Hardjono S, Suparwitri S. Perawatan maloklusi Angle klas I dengan gigi depan crowding berat dan crossbite menggunakan teknik Begg pada pasien dengan kebersihan mulut buruk. Maj Kedokt Gigi Indones. 2014;21(2):204.

Wijayanti P. Gambaran maloklusi dan kebutuhan perawatan ortodonti pada anak usia 9–11 tahun (studi pendahuluan di SD At-Taufiq, Jakarta). 2014.

Zou J, Meng M, Law CS, Rao Y, Zhou X. Common dental diseases in children and malocclusion. Int J Oral Sci. 2018;10(1):7.

Diterbitkan

2026-02-09

Cara Mengutip

Dwi Wahyu Arsita Deni, & Distya Ardiansyah. (2026). Prevalensi Maloklusi Berdasarkan Klasifikasi Angle pada Anak Usia 12 Tahun di UPT Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang. JIMU:Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 4(01). Diambil dari https://ojs.smkmerahputih.com/index.php/jimu/article/view/2056